Kamis, 10 Januari 2013

I'JAZ AL-QUR'AN (MAKALAH ULUMUL QUR'AN)


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
 Al-Quran tidak henti-hentinya diteliti dan dikaji. Kandungan kitab suci tersebut terus menerus digali oleh para pengkajinya. Mereka berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang otentisitas al-Quran, kebenaran kandungannya, nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, dan eksistensi al-Quran sebagai mukjizat abadi Nabi Muhammad saw.
Kajian al-Quran sebagai mukjizat ini berkenaan dengan kehebatan al-Quran dalam menantang dan mengalahkan berbagai upaya orang-orang yang mencari atau mencari-cari kekurangan atau kelemahan al-Quran. Tantangan al-Quran dan kemampuan mengalahkan “musuh-musuhnya” itu ini dinamakan i’jaz atau mukjizat al-Quran.
I’jaz atau mukjizat al-Quran adalah studi tentang bagaimana al-Quran mampu melindungi dirinya dari beragam “serangan”, baik yang berbentuk ketidakpercayaan, maupun keragu-raguan sampai pengingkaran terhadapnya. Pada saat yang sama,           al-Quran juga mampu melakukan counter attack yang mampu mementahkan dan mengalahkan serangan-serangan tersebut.
Makalah ini akan membahas tentang pengertian i’jaz dan mukjizat, jenis-jenis mukjizat, segi-segi kemukjizatan al-Quran, dan faktor-faktor  yang menyebabkan kegagalan dan ketidakmampuan bangsa Arab-dan manusia pada umumnya-dalam menandingi  al-Quran.

B.       Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud dengan I’jaz dan Mukjizat ?
2.         Apa saja jenis-jenis mukjizat ?
3.         Apa saja unsur-unsur Mukjizat ?
4.         Apa saja segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an ?
5.         Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dan ketidakmampuan bangsa Arab dalam menandingi  al-Quran ?


C.       Tujuan dan Manfaat
1.         Menjelaskan apa yang dimaksud dengan I’jaz dan Mukjizat.
2.         Menjelaskan dan menyebutkan unsur-unsur Mukjizat.
3.         Menjelaskan dan menyebutkan jenis-jenis Mukjizat.
4.         Menjelaskan dan menyebutkan segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an.
5.         Menjelaskan dan menyebutkan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dan ketidakmampuan bangsa Arab dalam menandingi  al-Quran



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian I’jaz dan Mukjizat
1.      I’jaz
Dari segi bahasa (etimologi), i’jaz berasal dari kata a’jaza  yu’jizu  i’jazan   yang artinya melemahkan, memperlemah, atau menetapkan kelemahan. Kata i’jaz sendiri awalnya berasal dari kata dasar a’jaza ya’jizu  yang artinya lemah atau tidak mampu. seperti dalam contoh: a’jaztu zaidan “aku mendapati Zaid tidak mampu”. Sedangkan menurut istilah  i’jaz didefinisikan oleh Manna Khalil al-Qaththan dan Ali al-Shabuny dalam tulisan Usman. Manna Khalil al-Qaththan mendefiniskan i’jaz sebagai “menampakan kebenaran Nabi saw dalam pengakuan orang lain, sebagai seorang rasul utusan Allah swt. dengan menampakkan kelemahan orang-orang Arab untuk menandinginya atau menghadapi mukjizat yang abadi, yaitu al-Quran dan kelemahan-kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.” Sementara Ali al-Shabuny mengartikan i’jaz sebagai “menetapkan kelemahan manusia baik secara kelompok atau bersama-sama untuk menandingi hal yang serupa dengannya…” Jadi i’jaz  ini upaya untuk menegaskan kebenaran seorang nabi dan pada saat yang sama ia juga menegaskan kelemahan manusia yang meragukan dan mengingkari kenabian. Wajar dalam konsep i’jaz ini kalau konsepsi kenabian diklaim sebagai kebenaran yang tidak bisa dibantah, apalagi dikalahkan.

2.      Mukjizat
secara bahasa, mu’jizat juga berasal dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan, yang artinya melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Sedangkan secara istilah, mu’jizat dapat didefinisikan oleh beberapa ulama, yaitu:
a.       Manna al-Qaththan dalam tulisan Rosihan sebagai “suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi. Dari definisi ini, mukjizat mengandung arti menantang dan mengalahkan orang-orang yang meragukan dan mengingkari sabda Tuhan. Tantangan ini tidak bisa ditandingi oleh siapapun, karena Allah berkehendak untuk memenangkan semua “pertempuran,” sementara orang-orang ragu dan para pengingkar tersebut tidak mampu melawan Tuhan.
b.      Ali al-Shabuny mendefinisikan mukjizat sebagai “bukti yang datangnya dari Allah swt. yang diberikan kepada hamba-Nya untuk memperkuat kebenaran misi kerasulan dan kenabiannya.” Definisi ini menegaskan bahwa fungsi mukjizat memperkuat posisi nabi dan rasul, sehingga tidak seorang pun mampu menghancurkan posisi tersebut.
c.       Muhammad Bakar Ismali mendefinisikan mu’jizat sebagai  “perkara luar biasa yang disertai-dan diikuti-dengan tantangan yang diberikan Allah swt. kepada nabi-nabi-Nya sebagai hujjah dan bukti yang kuat atas misi dan kebenaran terhadap apa yang diembannya, yang bersumber dari Allah swt.”
d.      Muhammad Syahrur mendefinisikan mukjizat dengan membaginya menjadi dua jenis, yaitu (1) mukjizat yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad dan (2) mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.  Menurut Syahrur, mukjizat yang diturunkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad adalah “percepatan kemajuan di bidang dunia indrawi (alam al-mahsus). Ia adalah fenomena alam yang melampaui dunia rasion/nalar ketika mukjizat tersebut diturunkan.” Sementara itu mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah al-Quran yang memiliki karakter abadi dan sesuai dengan jaman dan tempat. Setiap pengetahuan dan ilmu manusia berkembang, maka kemukjizatan al-Quran akan semakin jelas.
Dari beberapa definisi diatas pengertian mukjizat dapat ditegaskan lagi oleh Quraish Shihab yang mengatakan bahwa Mukjizat adalah Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu”
Mukjizat sebagai kejadian luar biasa tidak dapat terjadi pada sembarang orang. Secara historis, mukjizat selalu menemukan momentnya sendiri berdasarkan kehendak Allah SWT.

B.     Macam-Macam Mukjizat
Menurut Syahrur mukjizat dapat diklarifikasikan menjadi dua jenis, yaitu:
1.         Mu’jizat Material Indrawi
Artinya Mukjizat yang tidak kekal. Maksudnya mukjizat jenis ini hanya berlaku pada  Nabi selain Nabi Muhammad Saw dan juga mukjizat ini hanya berlaku untuk jaman tertentu, kapan mukjizat tersebut diturunkan. Oleh karena itu wajar kalau sifat mukjizat tersebut tidak kekal.. Secara umum dapat diambil contoh adalah mukjizat nabi Musa AS dapat membelah lautan, mukjizat nabi Daud AS dapat melunakkan besi, mukjizat nabi Isa AS dapat menghidupkan orang mati, mukjizat nabi Ibrahim AS tidak hangus oleh api saat dibakar dan mukjizat-mukjizat nabi  lainya.
2.         Mukjizat Immaterial
Artinya Mukjizat ini bersifat kekal dan berlaku sepanjang jaman. Mukjizat tersebut adalah al-Quran al-Karim. Hal ini, menurut Syahrur, karena Muhammad (sebagai penerima mukjizat ini) nabi terakhir, sehingga mukjizatnya harus memiliki sifat abadi dan berlaku sampai dunia ini hancur. Secara lebih gamblang, Syahrur membedakan mukjizat Nabi muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya. Pertama, aspek rasionalitas kenabian Muhammad yang berupa al-Quran dan al-sab’ul al-matsani mendahului pengetahuan inderawi, yaitu dalam bentuk mutasyabih. Setiap jaman berubah, konsepsi-konsepsi al-Quran masuk ke dalam wilayah pengetahuan inderawi, yang disebut sebagai takwil langsung, yaitu kesesuaian antara teks pengetahuan terhadap hal inderawi. Kedua, al-Quran memuat hakekat wujud mutlak yang dapat dipahami secara relatif, sesuai dengan latar belakang pengetahuan, pada masa yang di dalamnya usaha pemahaman al-Quran dilakukan. Ketiga, Kemukjizatan al-Quran bukan hanya bentuk redaksinya saja, tapi juga kandungannya.

C.     Unsur-Unsur  Mukjizat
M. Quraish Shihab dalam tulisan Rosihan menjelaskan empat unsur mukjizat, yaitu:
1.         Hal atau peristiwa yang luar biasa. Peristiwa-peristiwa alam atau kejadian sehari-hari walaupun menakjubkan tidak bisa dinamakan mukjizat. Ukuran “luar biasa” tersebut adalah tidak bertentangan dengan hukum alam, namun akal sehat pada waktu terjadinya peristiwa tersebut belum bisa memahaminya.
2.         Terjadi atau dipaparkan oleh seorang Nabi. Artinya sesuatu yang luar biasa tersebut muncul dari atau berkenaan dengan seorang Nabi. Peristiwa besar yang muncul dari seorang calon Nabi tidak bisa dikatakan mukjizat, apalagi dari manusia biasa seperti kita.
3.         Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian. Mukjizat terkait erat dengan tantangan dan jawaban terhadap orang-orang yang meragukan kenabian. Jadi peristiwa yang terkait dengan Nabi, tapi tidak berkenaan dengan kenabian tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat.
4.         Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. Mukjizat merupakan tantangan terhadap orang-orang yang meragukan atau mengingkari kenabiaan dan mereka tidak mampu melayani tantangan tersebut. Oleh karena itu, kalau tantangan tersebut mampu dilawan atau dikalahkan, maka tantangan tersebut bukan lah bentuk mukjizat.
Keempat unsur tersebut menjadi syarat bagi peristiwa tertentu sehingga peristiwa ini bisa dinamakan mukjizat. Kalau salah satu unsur tersebut tidak ada, maka persitiwa itu tidak bisa dikatakan sebagai mukjizat. Untuk memahami esensi keempat unsur mukjizat tersebut, kita mesti memahami segi-segi kemukjizatan, khususnya kemukjizatan al-Quran.

D.    Segi-segi Kemukjizatan Al – Qur’an
Syeikh Muhammad Ali al-Shabuniy dalam tulisan Usman menyebutkan segi-segi kemukjizatan al-Quran, yaitu:
1.         Keindahan sastranya yang sama sekali berbeda dengan keindahan sastra yang dimiliki oleh orang-orang Arab
2.         Gaya bahasanya yang unik yang sama sekali berbeda dengan semua gaya bahasa yang dimiliki oleh bangsa  Arab
3.         Kefasihan bahasanya yang tidak mungkin dapat ditandingi dan dilakukan oleh semua makhluk termasuk jenis manusia
4.         Kesempurnaan syariat yang dibawanya yang mengungguli semua syariat dan aturan-aturan lainnya
5.         Menampilkan berita-berita yang bersifat eskatologis yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh otak manusia kecuali melalui pemberitaan wahyu al-Quran itu sendiri
6.         Tidak adanya pertentangan antara konsep-konsep yang dibawakannya dengan kenyataan kebenaran hasil penemuan dan penyelidikan ilmu pengetahuan
7.         Terpenuhinya setiap janji dan ancaman yang diberitakan al-Quran
8.         Ilmu pengetahuan yang dibawanya mencakup ilmu pengetahuan syariat  dan ilmu pengetahaun alam (tentang jagat raya).
9.         Dapat memenuhi kebutuhan manusia
10.     Dapat memberikan pengaruh yang mendalam dan besar pada hati para pengikut dan musuh-musuhnya
11.     Susunan kalimat dan gaya bahasanya terpelihara dari paradoksi dan kerancuan. 
Al-Mawardi dalam tulisan Hasbi ash-Shiddiqie menerangkan dua puluh hal yang menunjukan kemukjizatan al-Quran, yaitu:
1.         Kefashahan al-Quran dan cara penjelasannya
2.         Keringkasan lapad al-Quran, tapi sempurna maknanya
3.         Nazham uslub-nya yang unik. Ia tidak termasuk ke dalam kalam yang ber-nadzam, tidak termasuk ke dalam syi’ar atau rajaz, tidak bersajak dan bukan pula bersifat khatbah.
4.         Banyak makna-maknanya yang tidak dapat dikumpulkan oleh oleh pembicaraan manusia.
5.         Al-Quran mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak dapat diliputi oleh manusia dan tidak dapat berkumpul pada seseorang.
6.         Al-Quran mengandung berbagai hujjah dan keterangan untuk menetapkan ketauhidan dan menolak i’tiqad-i’tiqad yang salah
7.         Al-Quran mengandung khabar-khabar orang yang telah lalu dan umat-umat purbakala.
8.         Al-Quran mengandung khabar-khabar yang belum terjadi, kemudian terjadi persis sebagaimana yang dikhabarkan.
9.         Al-Quran menerangkan isi-isi hati yang tidak dapat diketahui melainkan oleh Allah sendiri.
10.     Lafad-lafad al-Quran melengkapi jazal mustarghab dan sahl al-mustaqrab. Dalam pada itu, tidak dipandang sukar jazal-nya dan tidak dipandang mudah sahl-nya.
11.     Pembacaan al-Quran mempunyai khushusiyah dengan kelima penggerak yang tidak didapatkan pada selainnya. Pertama, kelembutan tempat keluarnya. Kedua, keindahan dan kecantikannya. Ketiga, mudah dibaca nadzam-nya dan saling berkaitan satu sama lain.Keempat, enak didengar, dan kelima, pembacanya tidak jemu membacanya dan pendengarnya pun tidak bosan mendengarnya.
12.     Al-Quran dinukilkan dengan lafad-lafad yang diturunkan. Jibril menyampaikannya dengan lafad dan nazham-nya. Rasul pun meneruskan kepada umat persis sebagaimana yang diterima dari Jibril.
13.     Terdapat makna-makna yang berlainan di dalam sesuatu. Yakni di dalam sesuatu surat itu kita mendapatkan berbagai rupa masalah. Kemudian masalah-masalah itu kita temukan di dalam surat-surat lain
14.     Perbedaan ayat-ayatnya, ada yang panjang dan ada yang pendek, tidak mengeluarkan al-Quran dari uslub-nya.
15.     Walaupun kita sering sekali membacanya, namun kita tidak dapat mencapai kepashahannya, karena al-Quran itu di luar tabi’at manusia.
16.     Al-Quran mudah dihapal oleh segala lidah.
17.     Al-Quran itu lebih tinggi dari segala martabat pembicaraan. Martabat pembicaraan terbagi tiga:
a.     Mantsur yang dapat dibuat oleh segenap manusia.
b.    Syi’ir yang hanya dapat disusun oleh sebagian manusia
c.    Al-Quran melampaui kedua martabat itu. Martabatnya tidak sanggup dicapai oleh golongan a dan b.
18.     Tambahan yang disisipkan atau pengubahan lafad-lafadnya dapat diketahui.
19.     Tidak ada umat yang sanggup menentang al-Quran.
20.     Allah memalingkan manusia dari menentangnya.

  1. Faktor-Faktor  Yang Menyebabkan Kegagalan dan Ketidakmampuan Bangsa Arab dalam Menandingi  al-Quran
Ada lima faktor  yang menyebabkan kegagalan dan ketidakmampuan bangsa arab dalam menandingi  al-quran, yaitu:
1.         Ketika menyusun syi’ir-syi’ir atau teks lisan lainnya, bangsa arab hanya mampu mensifati benda-benda yang bisa dilihat, seperti kuda, unta, perempuan, dll. Namun al-Quran, selain mensifati benda-benda yang bisa dilihat, tapi juga mampu memaparkan hal-hal ghaib, termasuk sejarah-sejarah masa lalu dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.
2.         Bagaimanapun hebatnya para pujangga dan orator Arab dalam menyusun kata-kata dan merangkai kalimat, mereka tidak mampu menyusun kata dan rangkaian kalimat yang semuanya fasih dan baligh. Sedangkan semua susunan kata dan rangkaian kalimta al-Quran fasih dan baligh, sehingga tidak seorang pun mampu menandinginya.
3.         Ketika para sastrawan Arab berulang-ulang memberikan sifat tentang sesuatu benda atau peristiwa yang terjadi dengan kalimat berbeda-beda, maka kalimat yang kedua berbeda maksudnya dengan kalimat yang pertama. Tetapi al-Quran tidaklah demikian, sekalipun kalimat yang satu diulang-ulang dengan menggunakan kalimat yang lain, namun ayat-ayat al-Quran tidak berubah dari tujuan yang semula, bahkan akan menambah kefasihannya.
4.         Para sastrawan Arab  yang paling tersohor sekalipun, hanya dapat menyusun syi’ir yang fasih dan baligh hanya dalam satu bidang saja, sedang dalam bidang lainnya tidak. Tetapi al-Quran semua susunan kalimat dan ayat –ayatnya fasih dan baligh.
5.         Kandungan syi’ir –syi’ir para pujangga dan sastrawan Arab banyak berisi kebohongan dan kepalsuan, namun semua kandungan al-Quran sangat bersih dari kedustaan dan kepalsuan.
www.iwanstanjung.com

BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
 Berdasarkan penjelasan diatas maka diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu:
1.         I’jaz adalah  upaya untuk menegaskan kebenaran seorang nabi dan pada saat yang sama ia juga menegaskan kelemahan manusia yang meragukan dan mengingkari kenabian. Sedangkan Mukjizat adalah Suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu
2.         Mukjizat terbagi menjadi dua, yaitu mukjizat material indrawi yang bersifat tidak kekal dan berlaku untuk jaman tertentu, dan mukjizat immaterial, bersifat kekal dan abadi, yang dapat dibuktikan sepanjang masa, dan berlaku sampai dunia ini berakhir.
3.         Unsur mukjizat ada empat, yaitu hal atau peristiwa yang luar biasa, terjadi atau dipaparkan oleh seorang nabi, mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian, dan tantangan tersebut tidak mampu dilayani.
4.         Menurut Syeikh Muhammad Ali al-Shabuniy, segi-segi kemukjizatan al-Quran ada sebelas, sementara menurut al-Mawardi ada dua puluh. Segi-segi kemukjizatan tersebut saling berkaitan satu sama lain.
5.         Ada lima faktor yang menyebabkan manusia tidak mampu menandingi al-Quran. Kelima faktor tersebut telah terbukti terjadi pada bangsa Arab dan akan selalu menjadi alasan sampai kapan pun mengapa manusia tidak akan mampu menandingi al-Quran.
B.      Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan Makalah ini meskipun penulisan ini jauh dari sempurna. Masih banyak kesalahan dari penulisan makalah ini, karena kami manusia yang adalah tempat salah dan dosa: dalam hadits “al insanu minal khotto’ wannisa’, dan kami juga butuh saran/ kritikan dari kalian semua, agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih atas dosen pembimbing mata kuliah Ulumul Qur’an Bapak ZUHRI, S.Sos, M.Pd.I. Yang telah memberi kami tugas membuat Makalah ini demi kebaikan diri kami sendiri dan untuk orang lain.
DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar